gambar
Tampilkan postingan dengan label You Say Grace. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label You Say Grace. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Januari 2013

Siwalatri

Dari kalangan para peminat spiritual, cerita Lubdaka itu diterjemahkan sebagai berikut : Jika seseorang sudah mampu membunuh sifat kebinatangannya, maka timbullah rasa ingin dekat dengan Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi Wasa). Rasa keinginan atau hasrat (kerinduan) itu diwujudkan dengan berbagai cara (berjapam/mengulang-ngulang nama suci Tuhan), beryajna dan sebagainya. 
Brata Siwa Ratri Pada Tilem KepituHal ini dilukiskan oleh Lubdaka yang memetik daun-daun Bila, dan mengenai Lingga Sang Hyang Siwa di telaga. Diistilahkan dengan seseorang yang sedang berjapam. Arwah Lubdaka menjadi rebutan, namun kemudian Siwa sendiri yang menyelamatkannya. Ini adalah suatu kiasan, bahwa betapapun besar dosa seseorang, jika sudah mohon ampun kehadapan –Nya serta insaf maka kesalahan itu akan diampuni oleh-Nya.

Hari suci Tilem datangnya tiap bulan, tapi mengapa tilem Kepitu mempunyai keistimewaan tersendiri. Untuk itu mari kita simak keutamaan brata Siwaratri yang tercantum dalam “Padma Purana” dituangkan dalam percakapan antara seorang Maha Rsi, yaitu Wasistha dengan seorang Raja yang bernama Dilipa. Kutipannya sebagai berikut :

“Dengarkanlah Paduka, saya akan menjelaskan kepada Anda tentang Brata Malam Siwa yang sangat utama, satu-satunya sarana untuk mencapai Siwaloka. Hari keempat belas paruh gelap bulan Magha atau Palguna, patut diketahui sebagai Malam Siwa (Siwaratri), yang menghapuskan segala papa. 

Anugerah itu paduka, tidak didapatkan dengan tapa, dana, japa, semadhi, tidak juga dengan upacara dan sebagainya. Brata Malam Siwa paduka, adalah yang paling utama diantara segala brata, bagi Meru diantara Gunung, Matahari diantara segala yang bercahaya, Pertapa diantara mahluk berkaki dua, dan Kapila diantara mahluk berkaki empat, Gayatri diantara mantra, Amerta diantara segala yang cair, Wisnu diantara laki-laki dan Arundhati diantara wanita”.

Banyak kalangan yang kurang setuju, jikalau malam Siwaratri sebagai malam penebusan dosa. Karena kepercayaan Hindu, hukum karma itu tidak pandang bulu. Meskipun orang suci, jika berbuat salah tetap akan mendapat hukuman. Reaksi dari perbuatan itu sulit untuk dihapus, maka dari itu ada beberapa pakar yang menyatakan tidak setuju jika malam Siwaratri diistilahkan sebagai malam peleburan dosa.

Umumnya Siwaratri dilaksanakan dengan laku brata : Mona Brata (pengendalian dalam kata-kata). Mona brata sering diistilahkan dengan tidak mengucapkan kata-kata sepatahpun. Sehingga hal seperti ini bisa menimbulkan kesalah-pahaman. Karena jika seorang teman sedang bertandang kerumah dan menyapa atau bertanya, tapi yang ditanya tidak menyahut, menyebabkan orang menjadi tersinggung. Maunya melakukan tapa mona brata, justru malah melakukan himsa karma, karena membuat orang lain menjadi jengkel dan sakti hati. Kalaupun punya niat tapa brata semacam itu, sebaiknya pergi ke hutan atau ketempat yang sunyi, jauh dari keramaian.

Upawasa yaitu pengendalian dalam hal makan dan minum. Jadi disini ditekankan tidak diharuskan untuk berpuasa/tidak makan dan minum semalam suntuk. Melainkan pengendalian dalam hal makan dan minum. Umat dibebaskan untuk melaksanakan bratanya, mau puasa ya silahkan, tidakpun tidak apa-apa. Hanya saja brata itu berlaku untuk seterusnya.

Jagra yaitu pengendalian tidur atau dalam keadaan jaga semalam suntuk hingga menjelang pagi disertai melakukan pemujaan kepada Siwa sebagai pelebur kepapaan. Jadi pada malam Siwaratri itu yang terpenting adalah begadang demi dia (Siwa). Bukan begadang main gaple atau nonton TV. Pada keesokan harinya melaksanakan Darma Santhi, pergi saling menungjungi kerumah sahabat, handai toland sambil bermaaf-maafan.

Jadi dapat disimpulkan bahwa Malam Siwaratri bukanlah malam peleburan dosa, melainkan peleburan kepapaan dari kelemahan sifat-sifat manusia. Semua manusia memiliki kepapaan, karena dibelengu oleh nafsu-nafsu indrianya/raganya. 

Itulah sebabnya sangat dianjurkan untuk melaksanakan brata Siwaratri pada Tilem Kepitu yaitu sehari menjelang Tilem Kepitu. Yang tujuannya semata-mata untuk mengurangi kepapaan dari nafsu-nafsu indria yang dimiliki oleh umat manusia. 

Terutama sekali yang berupa 7 (tujuh) kegelapan yang disebut dengan Sapta Timira (tujuh macam kemabukan). Diantaranya adalah, Surupa (mabuk karena rupawan/rupa tampan atau cantik), Dhana (mabuk karena kekayaan), Guna (mabuk karena kepandaian), Kasuran (mabuk karena kemegahan), kulina (mabuk karena keturunan bangsawan), Yowana (mabuk karena keremajaan), Sura (mabuk karena minuman keras).

Ternyata bukan minuman keras saja yang menyebabkan seseorang menjadi mabuk, melainkan juga ke enam keberuntungan itu. Jika tidak hati-hati membawa dan menjaga keberuntungan itu, justru membuat seseorang menjadi sombong dan terjerumuslah dia kedalam kegelapan. 

Makna hari suci Siwaratri adalah untuk menyadari bahwa seseorang berada dalam pengaruh kegelapan. Kegelapan itulah yang harus diterangi, baik jiwa, pikiran maupun badan jasmaninya. Kegelapan itu harus disingkirkan dengan ilmu pengetahuan rohani.

Yang paling penting sekali adalah berkat dari Sang Hyang Siwa sendiri. Beliaulah yang akan menghapus kepapaan, ketidak berdayaan melawan hawa nafsunya sendiri. Mungkin ribuan orang akan menyoraki dan mencaci maki seorang penjahat yang mendapat hukuman. Bahkan pula dilempari dengan batu. Namun beliau (Sang Hyang Sada Siwa) menangis melihat umat-Nya dalam kesengsaraan. Beliau tidak membenci malah lebih bersimpati pada mereka yang mengalami nasib buruk seperti itu.

Itulah keutamaan beliau, tidak membenci siapapun, walaupun penjahat kelas kakap yang dibenci jutaan manusia. Beliau tetap berbelas kasih. Bersedia mengampuni, asal umat-Nya dengan tulus iklas berserah diri, pasrah total kehadapan-Nya. 

Beliau sendiri yang akan mebimbing dan memutuskan keadilan-Nya. Maka sangat dianjurkan untuk melaksanakan brata Siwaratri ini kepada siapa saja. Karena pintu tobat dan pengampunan pada hari itu terbuka lebar-lebar.

Ada lagi disebutkan keutamaan brata Siwaratri dalam lontar “Siwaratrikalpa” buah karya Mpu Tanakung, bahwa jika seseorang mampu melaksanakan laku ; upawasa, mona brata dan jagra pada hari itu, yang tujuannya memuja Sang Hyang Sada Siwa, serta memohon pengampunan-Nya maka dosanya akan terhapus. 

Kelihatannya kok gampang dan mudah sekali ya ? Belum tentu ! Melaksanakan salah satu dari brata itupun sangat sulit, apalagi ketiganya sekaligus. Meskipun cuma satu hari satu malam, wah sulitnya minta ampun.

Dan beliau (Mpu Tanakung) juga mengisyaratkan bahwa brata Siwaratri melebihi semua jenis yajna. Untuk itulah, seseorang jangan berputus asa jika sudah terlanjur melakukan kesalahan. Karena Siwaratri bisa dilaksanakan dimana saja (di rumah, di Pura, di tempat sunyi, bahkan di Lembaga Pemasyarakatan / Penjara). Justru disinilah mungkin ( di Lemaga Pemasyarakatan) brata Siwaratri itu dilaksanakan lebih khusuk.

Apa tujuannya Monabrata, upawasa dan mejagra. Pada dasarnya, laku-laku tapa brata adalah untuk pengendalian diri (mengekang hawa nafsu). Atau dengan kata lain membiasakan berkata dan bertingkah laku yang baik. 

Monobrata maksudnya adalah mengubah kebiasaan dari suka berkata-kata kasar, memaki, memfitnah, membicarakan keburukan orang, menjadi senang berkata-kata yang lemah lembut, membicarakan kebaikan orang lain, senang mengagungkan nama Tuhan.

Monobrata pada hari suci Siwaratri diarahkan untuk mengucapkan nama Tuhan didalam lubuk hati secara terus menerus, misalnya ; “Om Namah Siwa Ya, Om Namah Siwa Ya,…. Om Namah Siwa Ya… Om Namah Siwa Ya… Om Namah Siwa Ya… Om Namah Siwa Ya… Om Namah Siwa Ya… Om Namah Siwa Ya… Om Namah Siwa Ya… Om Namah Siwa Ya. . .dan seterusnya. 

Ada kebiasaan umat yang membawa tasbih atau genitri. Ada juga yang tidak membawa apa-apa. Yang penting adalah nilai kekhusukannya.

Tapa monobrata tujuannya adalah sangat luhur dan mulia, terutama sekali untuk mengekang nafsu marah dan angkara murka. Sebab kata-kata yang kasar bisa melukai perasaan orang lain sampai bertahun-tahun. 

Maka orang yang dikuasai oleh nafsu murkanya, tak dapat tidak niscaya ia melakukan perbuatan jahat, sampai akhirnya dapat membunuh guru, dan sanggup ia membakar hati seorang saleh, yaitu menyerang dia dengan kata-kata yang kasar.
Brata Siwa Ratri Pada Tilem KepituTambahan pula orang yang dikuasai oleh nafsu murka, sekali-kali tidak tahu akan perkataan yang keliru dan yang benar, sekali-kali mereka tidak mengenal perbuatan yang terlarang dan yang menyalahi dharma serta sanggup mereka mengatakan sesuatu yang tidak layak untuk dikatakan.

Maka monobrata diusahakan sekali untuk dilaksanakan meski tidak hanya pada hari Suci Siwaratri saja. Karena begitu besar manfaatnya, bagi pembentukan sifat dan karakter seseorang. Hakekatnya yang disebut nafsu murka, adalah musuh didalam diri kita ; jika ada orang yang dapat menghilangkan nafsu murka itu, maka ia pun akan disegani, dipuji dan dihormati selama ia ada di dunia.

Kemudian laku upawasa yaitu berpuasa tidak makan dan minum adalah untuk menunjang jalannya brata monobrata. Supaya konsentrasi seseorang yang menjalankan laku ini tidak pecah. Mengistirahatkan kerja usus, lambung dan kerongkongan serta mulut pada hari suci itu, untuk tujuan pemujaan. Berpuasa secara fisik dan mental menjadikan tujuan itu terpusat kesatu arah. Apalagi disertai dengan japam (pengulangan mantra), sehingga meditasi itu menjadi khusuk.

Mejagra yaitu begadang semalam suntuk, dalam tradisi India ada diistilahkan dengan “Akanda Bhajan”. Yaitu mengidungkan nama-nama suci Tuhan selama 24 jam secara terus menerus, sambung menyambung. 

Begitupun halnya dengan mejagra, begadang semalam suntuk sambil mengidungkan nama-Nya di dalam hati secara terus menerus. Makna dari mejagra ini adalah, agar seseorang senantiasa terjaga selama hidupnya, dengan kata lain tidak lupa diri (mabuk) tidak dikuasai oleh 7 (tujuh) nafsu kemabukan itu.



“Atyantādhika ning bratanya
taya kājar denikang rāt kabeh,
manggeh ling nikang ādisastra
Shivarātri punya tan popama”
Shivarātrikalpa. 12.1.

(Sangat utama Brata Sivarātri telah diajarkan kepada dunia dan sastra-sastra utama selalu menekankan keutamaan Shivarātri tiada bandingnya)
Siwaratri adalah hari suci untuk melaksanakan pemujaan ke hadapan Hyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa dalam perwujudannya sebagai Sang Hyang Siwa. Siwarâtri juga disebut hari suci pajagran, Siwarâtri jatuh pada hari Catur Dasi Krsna paksa bulan Magha (panglong ping 14 sasih Kapitu)[1]. Tahun 2012 jatuh pada hari minggu tanggal 22 Januari 2012.

Di India, setiap menjelang bulan mati (setiap bulan) umat Hindu menyelenggarakan Siwa Ratri dan tiap tahun merayakan Maha Siwa Ratri[2].
Bhagavan Satya Sai Baba mengatakan tentang siwa ratri sebagai berikut “Beginilah, malam dikuasai oleh bulan. Bulan mempunyai enam belas kala atau bagian-bagian kecil. Setiap hari bila bulan menyusut, berkuranglah satu bagian kecil hingga bulan hilang seluruhnya pada malam bulan yang baru. Setelah itu setiap hari tampak sebagaian, hingga lengkap pada bulan purnama. Bulan adalah dewata yang menguasai manas yaitu pikiran dan perasaan hati. ‘Candramaa manaso jaathah’. Dari Manas (pikiran) Purusha (Tuhan) timbullah bulan. Ada daya tarik menarik yang erat antara pikiran dan bulan, keduanya dapat mengalami kemunduran atau kemajuan. Susutnya bulan adalah simbul susutnya pikiran dan perasaan hati, karena pikiran dan perasaan hati dikuasai, dikurangi akhirnya dimusnahkan. Semua sadhana ditujukan pada hal ini. Manohara, pikiran dan perasaan hati harus dibunuh, sehingga maya dapat dihancurkan dan kenyataan terungkapkan. Setiap hari selama dua minggu ketika bulan menggelap, bulan, dan secara simbolis rekan imbangnya di dalam diri manusia yaitu ‘manas’ menyusut dan lenyap sebagian, kekuatannya berkurang, dan akhirnya pada malam keempat belas, Chaturdasi, sisanya hanya sedikit. Jika pada hari itu seorang sadhaka berusaha lebih giat, maka sisa yang kecil itupun dapat dihapuskan dan tercapailah Manonigraha (penguasaan pikiran dan perasaan hati). Oleh karena itu Chaaturdasi dari bagian yang gelap disebut Siwaratri. Karena malam itu seharusnya digunakan untuk japa dan dhyana kepada Siwa tanpa memikirkan soal yang lain, baik soal makan maupun tidur. Dengan demikian keberhasilan pun terjamin. Dan sekali setahun pada malam Mahasiwaratri, dianjurkan mengadakan kegiatan spiritual yang istimewa agar apa yang Savam (jasat atau simbol orang yang tak memahami kenyataan sejati) menjadi Sivam (terberkati, baik, ilahi) dengan menyingkirkan hal yang tak berharga, yang disebut Manas.”

Merayakan Siwaratri pada hakekatnya adalah melakukan pengendalian diri. Caranya dengan upawasa (puasa), monobrata (tidak berbicara), dan jagra (bergadang,selalu terjaga)[3]. Diakui atau tidak, manusia sering lupa, karena memiliki keterbatasan. Kerena sering mengalami lupa itu, maka setiap tahun pada sasih kepitu dilangsungkan Siwa Ratri dengan inti perayaan malam pejagraan. Pejagraan yang asal katanya jagra itu artinya sadar,waspada, eling atau melek. Orang yang selalu jagra atau waspadalah yang dapat menghindar dari perbuatan dosa. Siwa Ratri (Ratri juga sering ditulis Latri) adalah malam untuk memusatkan pikiran pada Sanghyang Siwa guna mendapatkan kesadaran agar terhindar dari pikiran yang gelap[4].

Upawasa atau puasa didalam perayaan hari-hari suci Hindu memiliki peranan penting seperti perayaan Nyepi dengan Catur Brata penyepian,demikian pula dalam pelaksanaan Siwa Ratri dengan Brata Siwa Ratri, Brata Siwarâtri terdiri dari:
  1. Utama, melaksanakan:
    1. Monabrata (berdiam diri dan tidak berbicara).

    2. Upawasa (tidak makan dan tidak minum).

    3. Jagra (berjaga, tidak tidur).

  2. Madhya, melaksanakan:
    1. Upawasa.

    2. Jagra.

  3. Nista, hanya melaksanakan:

  4. Jagra.
Monabrata berlangsung dan pagi hari pada panglong ping 14 sasih Kapitu sampai malam (12 jam).
Upawasa berlangsung dan pagi hari pada panglong ping 14 sasih Kapitu sampai dengan besok paginya (24 jam).
Setelah itu sampai malam (12 jam) sudah bisa makan nasi putih dengan garam dan minum air putih (air tawar tanpa gula).
Jagra yang dimulai sejak panglong ping 14 berakhir besok harinya jam 18.00 (36 jam).


Tentang pentingnya upawasa diuraikan didalam weda sebagai berikut[5];
Dengan melakukan tapa (brata) seseorang memperoleh diksa (penyucian), dengan melakukan diksa seseorang memperoleh daksina, dengan daksina seseorang memperoleh sraddha (keyakinan) dan dengan sraddha seseorang memperoleh satya (kebenaran).[Yajur Weda XX.25]
Brahma-enad vidyat tapasa vipascit (Orang yang bijaksana mengetahui Hyang Widhi dengan sarana tapa (pengendalian diri dengan penebusan dosa). [Atharwa Weda VIII.9.3]
Tapas caiva-astam karma ca-antar mahati-arna ve (Tapa dan keteguhan hati adalah satu-satunya juru selamat di dunia yang mengerikan). [Atharwa Weda XI.8.2]
Atapta-tanur na tad amo asnute (Orang tidak bisa menyadari Sang Hyang Widhi Wasa, Yang Maha Agung tanpa melaksanakan tapa). [Rg Weda IX.83.1]
Demikian sedikit tentang uraian upawasa, sehingga dalam suatu perayaan hari suci hendaknya selalu didahului atau dikuti dengan upawasa atau puasa[6].

Sumber –Sumber Sastra[7]
Itihasa
Dalam Itihasa, Śivarātri terdapat dalam Mahabharata, yaitu pada Santi Parva, dalam episode ketika Bhisma sedang berbaring di atas anak-anak panahnya Arjuna, menunggu kematian, sambil membahas dharma, mengacu kepada perayaan Maha Śivarātri oleh raja Citrabhanu, raja Jambudvipa dari dinasti Iksvaku. Raja Citrabhanu bersama istrinya melakukan upavasa pada hari Maha Śivarātri . Rsi Astavakra bertanya: “Wahai sang raja, mengapa kalian berdua melakukan upavasa pada hari ini? Sang raja dianugerahi ingatan akan punarbhawa sebelumnya, lalu ia menjelaskan kepada sang rsi.
“Dalam kehidupanku terdahulu aku adalah seorang pemburu di Varanasi yang bernama Susvara. Kebiasaanku adalah membunuh dan menjual burung-burung dan binatang lainnya. Suatu hari aku berburu ke hutan, aku menangkap seekor kijang, namun hari keburu gelap. Aku tidak bisa pulang, kijang itu kuikat di sebatang pohon. Lalu aku naik sebatang pohon bilva. Karena aku lapar dan haus, aku tidak dapat tidur. Aku teringat anak istriku yang malang di rumah, menungguku pulang dengan rasa lapar dan gelisah. Untuk melewatkan malam aku memetik daun bilva dan menjatuhkannya ke tanah.
“Hari telah menjelang fajar, aku kembali pulang ke rumah dan menjual kijang tersebut, lalu membeli makanan untuk keluargaku. Ketika akan menyantap makanan untuk mengakhiri puasaku, seorang asing datang meminta makanan. Aku melayaninya terlebih dahulu, kemudian baru aku mengambil makananku.
“Pada saat kematianku, aku melihat para pesuruh deva Śiva, mereka menjemputku untuk dibawa kepada Śiva. Aku baru sadar bahwa aku secara tidak sengaja telah melakukan pemujaan suci pada Śiva, pada hari Śivarātri . Mereka memberitahuku bahwa ada linggam di bawah pohon. Daun yang kujatuhkan tepat jatuh di atas linggam itu. Air mataku pada saat menangisi keluargaku jatuh di atas linggam dan membersihkannya. Dan aku telah berpuasa sepanjang hari dan malam. Aku telah memuja Yang Kuasa tanpa sadar. Aku tinggal bersama dengan-Nya dan menikmati kebahagiaann Ilahi selamanya. Aku kini terlahir sebagai Citrabhanu.
Purana
Śivarātri juga dimuat dalam purana-purana, seperti berikut:

1. Śiva Purana (bagian Jnanasamhita).
Pada bagian ini memuat percakapan antara Suta dengan para ṛṣi, menguraikan pentingnya upacara Śivarātri. Seseorang bernama Rurudruha sangat kejam, namun setelah melaksanakan vrata Śivarātri akhirnya menjadi sadar akan kekejaman dan kedangkalan pikirannya. Dalam Śiva Purana juga disebutkan bahwa bagi mereka yang berpuasa siang dan malam pada hari Maha Śivarātri ini dan memuja Śiva dengan daun bilva, akan mencapai kedekatan dengan Śiva. Mereka yang melakukan vrata ini selama 12 tahun maka dinyatakan bahwa mereka akan menjadi seorang Gana yaitu pengawal Śiva.
2. Skanda Purana (bagian Kedarakanda).
Pada bagian Kedarakanda dari Skanda Purana antara lain memuat percakapan antara Lomasa dengan para rsi. Lomasa menceritakan kepada para rsi tentang si Canda yang jahat, pembunuh segala mahluk, sampai membunuh brahmana, akhirnya dapat mengerti dan menghayati apa yang disebut “kebenaran” Dalam purana ini diuraikan tentang asal mula upacara Śivarātri tersebut. Dalam Skanda Purana juga diceritakan kisah seorang pemburu yang identik dengan kisah pemburu dalam Santi Parva.
3. Garuda Purana (bagian Acarakanda).
Bagian ini memuat uraian singkat tentang Śivarātri , diceritakan bahwa Parvati bertanya tentang brata yang terpenting. Śiva menguraikan tentang pelaksanaan vrata Śivarātri . Seorang raja bernama Sudarasenaka pergi berburu ke hutan bersama seekor anjing. Rangkaian kisah inipun tidak berbeda dengan kisah pemburu di atas.
4. Padma Purana (bagian Uttarakanda).
Bagian ini memuat percakapan raja Dilipa dengan Wasista. Wasista menceritakan bahwa Śivarātri adalah vrata yang sangat utama, antara bulan Magha dan Palghuna. Dalam Padma Purana, pemburu itu bernama Nisadha. Berkat vrata Śivarātri yang dilakukannya berhasil membawanya ke Śiva Loka.

Sumber Lokal
Sumber Jawa Kuno adalah kakawin Śivarātri kalpa (di masyarakat lebih dikenal kakawin Lubdhaka), karya mahakawi Mpu Tanakung.
Karya ini ternyata bersumber dari Padma Purana. Uraian tentang Śivarātri juga terdapat dalam lontar Aji-brata serta sejumlah karya sastra kidung dan geguritan Lubdhaka. Mpu Tanakung mengarang kakawin Śivarātri kalpa pada jaman Majapahit akhir (1447 Masehi).

Sumber Eropa
Dalam sumber-sumber Eropa ada diuraikan tentang apa yang disebut vrata Zuiverasiri (Śivarātri ). Vrata ini dilakukan pada bulan Pebruari, dikaitkan dengan kisah seorang pemburu bernama Beri yang karena kemalaman di hutan lalu naik ke atas pohon Cuola (Bilva). Semalaman ia memetik-metik daun pohon itu yang tanpa disadarinya telah dilemparkannya kepada Zuivelingga (Śivalingga) yang berada di bawah pohon itu. Akhirnya si pemburu mendapat anugerah dari Ixora (Isvara).

Sumber Arab Kuno
Selain sumber Eropa juga diketemukan uraian tentang pemujaan Śiva Mahadeva di dalam kitab Sayar-ul Okul, sebuah kitab yang memuat ontologi puisi Arab Kuno; susunan Abu Amir Asmai, orang yang dihormati sebagai Kalidasanya Arab. Kitab ini memuat sebuah syair karya Umar bin Hassam, seorang penyair besar yang karya-karyanya juga dinilai sebagai karya terbaik dalam suatu simposium yang biasanya diadakan dalam perayaan tahunan Okaz (menurut Prof. Oberai, Śivarātri di Arab pada jaman Arab Kuno, disebut Okaz atau Sabhebarat). Dalam tulisannya, berjudul Influence of Indian Culture on Arabia, Oberai menyatakan informasi tersebut.
Pada bagian lain, Oberai juga memberikan keterangan bahwa nantinya setelah terjadi peristiwa tertentu di Mekah, istilah Śivarātri diganti menjadi Shabe Barat.
Puisi ini berisi:
“Orang yang menghabiskan hidupnya untuk hal-hal yang bersifat kenafsuan, jika pada akhirnya ia menjadi sadar dan ingin kembali ke jalan moral disediakan jalan ke arah itu. Walaupun ia hanya sekali memuja MAHADEVA ia bisa mendapatkan posisi yang tertinggi dalam “kebenaran”.

Keutamaan Siwa ratri
Keutamaan siwaratri diuraikan didalam berbagai susastra veda (vedic literature ) dan bahkan di Eropa dan Arab . Diantaranya didalam Padma Purana , Dituangkan dalam percakapan antara seorang Maha Rsi, yaitu Wasistha dengan seorang Raja yang bernama Dilipa. Kutipannya sebagai berikut:

“Dengarkanlah Paduka, saya akan menjelaskan kepada Anda tentang Brata Malam Siwa yang sangat utama, satu-satunya sarana untuk mencapai Siwaloka. Hari keempat belas paruh gelap bulan Magha atau Palguna, patut diketahui sebagai Malam Siwa (Siwaratri), yang menghapuskan segala papa. Anugerah itu paduka, tidak didapatkan dengan tapa, dana, japa, semadhi, tidak juga dengan upacara dan sebagainya. Brata Malam Siwa paduka, adalah yang paling utama diantara segala brata, bagi Meru diantara Gunung, Matahari diantara segala yang bercahaya, Pertapa diantara mahluk berkaki dua, dan Kapila diantara mahluk berkaki empat, Gayatri diantara mantra, Amerta diantara segala yang cair, Wisnu diantara laki-laki dan Arundhati diantara wanita”[8].
Selanjutnya kitab Shiva Purana menyatakan[9]:
“Di antara berbagai Brata, mengunjungi tempat suci, memberi dana punya yang mahal seperti batu mulia (emas dan permata), melakukan berbagai jenis upacara Yajña, berbagai jenis tapa (pertapaan) dan melakukan berbagai kegiatan Japa (mengucapkan berulang-ulang nama-nama-Nya atau mantra untuk memuja keagungan-Nya), semuanya itu tidak ada yang melebih keutamaan brata Shivarātri. Demikian keutamaan Brata Shivarātri, hendaknya Brata ini selalu dilaksanakan oleh mereka yang menginginkan keselamatan dan keberutungan. Brata Shivarātri adalah Brata yang sangat mulia, agung yang dapat memberikan kesejahtraan dan kebahagiaan lahir dan bathin (Shastri, Shiva Purana, Koti Rudrasamhita, XL. 99-101,Vol.3, Part III, p. 1438).
Sejalan dengan pernyataan di atas, kakawin Shivarātrikalpa menyatakan keutamaan Brata Shivarātri seperti diwedarkan oleh Sang Hyang Shiva sebagai berikut :
“Setelah seseorang mampu melaksanakan Brata sebagai yang telah Aku ajarkan, kalahlah pahala dari semua upacara Yajña, melakukan tapa dan dana punya demikian pula menyucikan diri ke tempat-tempat suci (patìrthan), pada awal penjelmaan, walaupun seribu bahkan sejuta kali menikmati Pataka (pahala dosa dan papa), tetapi dengan pahala Brata Shivarātri ini, semua Pataka itu lenyap”.
“Walaupun benar-benar sangat jahat, melakukan perbuatan kotor, menyakiti kebaikan hati orang lain, membunuh pandita (orang suci) juga membunuh orang yang tidak bersalah, congkak dan tidak hormat kepada guru, membunuh bayi dalam kandungan, seluruh kepapaan itu akan lenyap dengan melakukan Brata Shivarātri yang utama, demikianlah keutamaan dan ketinggian Brata (Shivarātri ) yang Aku sabdakan ini” ( Shivaratrikalpa, 37, 7-8).

Banyak kalangan yang kurang setuju, jika malam Siwaratri sebagai malam penebusan dosa. Karena kepercayaan Hindu, hukum karma itu tidak pandang bulu. Meskipun orang suci, jika berbuat salah tetap akan mendapat hukuman. Reaksi dari perbuatan itu sulit untuk dihapus, maka dari itu ada beberapa pakar yang menyatakan tidak setuju jika malam Siwaratri diistilahkan sebagai malam peleburan dosa.
Apabila digali berdasarkan susastra veda , dosa – dosa seseorang dapat ditebus dengan bhakti kepada Tuhan , hal ini diuraikan didalam bhagavad Gita “ Meskipun seseorang melakukan perbuatan yang paling jijik, kalau ia tekun dalam bhakti, ia harus diakui sebagai orang suci karena ia mantap dalam ketabahan hatinya dengan cara yang benar”. (BG 9.30).
Dengan sloka diatas maka benar Siwa Ratri dikatakan sebagai malam penebusan dosa. Jika memang seseorang berniat untuk melaksanakan penebusan dosa dimalam Siwa Ratri sedikitnya seseorang melaksanakan Brata Jagra, Brata Upawasa dan berjapa “Om Nama Siwa Ya ” sebanyak 108 x 16 : 1728 kali Mantram. Dengan melaksanakan Siwa Ratri dengan aturan kitab suci maka seseorang akan dituntun kepada jalan yang dharma dan lambat laun ia sadar akan hakekat jati dirinya sehingga menumbuhkan rasa Bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Namun yang menjadi pertanyaan , sudahkah kita melaksanakan Siwa Ratri dengan benar? Faktanya perayaan Siwa Ratri hanya sebagai seremonial tanpa makna. Apalagi dikalangan generasi muda, tak jarang dimanfaatkan untuk pacaran bahkan untuk berjudi serta mabuk mabukan . Malam penebusan dosa justru menjadi malam penambahan dosa.


Jumat, 07 September 2012

Hari Raya Kuningan


  Hari Raya Kuningan diperingati setiap 210 hari atau 6 bulan sekali dalam kalender Bali tepatnya padaSaniscara Kliwon Wuku Kuningan. (1 bulan dalam kalender Bali = 35 hari)
Di hari suci diceritakan Ida Sang Hyang Widi turun ke dunia untuk memberikan berkah kesejahteraan buat seluruh umat di dunia. Sering juga diyakini, pelaksanaan upacara pada hari raya Kuningan sebaiknya dilakukan sebelum tengah hari, sebelum waktu para Betara kembali ke sorga.
Kuningan adalah rangkaian upacara Galungan, 10 hari sebelum Kuningan. Pada hari itu dibuat nasi kuning, lambang kemakmuran dan dihaturkan sesajen-sesajen sebagai tanda terimakasih dan suksmaning idep kita sebagai manusia (umat) menerima anugrah dari Hyang Widhi berupa bahan-bahan sandang dan pangan yang semuanya itu dilimpahkan oleh beliau kepada umatNya atas dasar cinta-kasihnya. Di dalam tebog atau selanggi yang berisi nasi kuning tersebut dipancangkan sebuah wayang-wayangan (malaekat) yang melimpahkan anugrah kemakmuran kepada kita semua.

Apa Itu Pura

   Sesungguhnya kata "Pura" berasal dari akhiran bahasa Sansekerta (-pur, -puri, pura, -puram, -pore), yang mengandung arti kota, kota berbenteng, atau kota dengan menara atau istana. Dalam perkembangannya istilah "Pura" menjadi khusus untuk tempat ibadah terutama di bali, sedangkan kata "Puri" diartikan khusus untuk tempat tinggal para raja dan bangsawan. Pada perkembangannya pura di bali dapat di bagi menjadi empat sesuai dengan tujuan dan tempat pura itu didirikan seperti Pura Kahayangan Jagat, Pura Kahyangan Desa, Pura Swagina dan Pura Kawitan.
Pura Kahyangan Jagat adalah pura umum untuk pemujaan Ida Sang Hyang widhi Wasa dengan segala manfestasinya. Dalam pura kahyangan jagat ini juga termasuk pura Sad Kahyangan dan Pura Dhang Kahyangan. Pura Sad Kahyangan adalah Pura-Pura tempat pemujaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang bermanefestasinya sebagai penjaga enam penjuru mata angin. Adapun pura-pura tersebut adalah Pura Silayukti, Pura Lempuyang, Pura Sakenan, Pura Luhur Batukaru, Pura Rambut Siwi, dan Pura Luhur Uluwatu. Sedangkan yang dimaksud dengan Pura Dhang Kahyangan adalah pura-pura besar yang berkaitan dengan Dharma-Yatranya seorang Dhang Guru terutama Dhang Hyang Dwijendra. Selain itu yang termasuk pura kahyangan jagat ini adalah pura-pura kerajaan.
  Pura Kahyangan tiga merupakan pura yang dibuat di suatu desa adat tertentu. Pura-pura ini biasanya disebut dengan Pura Kahyangan Tiga meliputi Pura Desa dan Pura Bale Agung, Pura Puseh dan Pura Dalem. Pura Desa dan bale Agung biasanya dibuat jadi satu, yang merupakan tempat pemujaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam Prabawanya sebagai Dewa Pencipta atau Dewa Brehma. Pura Puseh merupakan pura sebagai tempat pemujaan kepada dewa Wisnu yang merupakan manefestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai Pemelihara. Dalam pure puseh ini biasanya dilakukan Upacara Ngusabha yang merupakan upacara untuk memohon kepda Ida Sang Hyang Widhi Wasa supaya Pertaniannya berhasil dengan baik. Terakhir, Pura Dalem merupakan tempat pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam prabawanya sebagai Pelebur yaitu Dewa Çiwa.
  Berdasarkan fungsinya pura itu dibuat maka disebut Pura Swagina. Pura-pura ini dibuat karena kesamaan didalam suatu bidang kekaryaan atau matapencarian. Pura-Pura tersebut adalah Pura di Sawah yang disebut sebagai Pura Bedugul, Pura di Pasar yang disebut sebagai Pura Melanting dan juga Pura di kantor-kantor termasuk dalam pura ini.
  Untuk tempat pemujaan yang lebih spesifik berasarkan asal usul keturunan atau wit maka pura tersebut dinamakan Pura Kawitan. Pura ini disungsung oleh kesamaan leluhur atau keturunan dan biasanya patrilineal(keturunan Laki-Laki), seperti Sanggah-Pemerajan, Pratiwi, Paibon, Panti, Dadia Pedharman dan sejenisnya
  1. Pengertian.
    Pura adalah tempat suci untuk memuja Hyang Widhi Wasa dalam segala Prabawa (manifestasi- NYA) dan Atma Sidha Dewata (Roh Suci Leluhur). Di samping dipergunakan istilah Pura untuk menyebut tempat suci atau tempat pemujaan, dipergunakan juga istilah Kahyangan atau Parhyangan.
  2. Fungsi Pura.
    Pura adalah tempat suci umat Hindu yang berfungsi sebagai tempat pemujaan Hyang Widhi Wasa dalam segala Prabawa- NYA (manifestasi- NYA) dan atau Atma Sidha Dewata (Roh Suci Leluhur) dengan sarana upacara yadnya sebagai perwujudan dari Tri Marga.
  3. Tujuan Pengelompokan Pura.
    1. Untuk meningkatkan pengertian dan kesadaran umat terhadap Pura sebagai tempat suci umat Hindu.
    2. Menghindari adanya salah tafsir bahwa dengan adanya banyak Palinggih di suatu Pura, Agama Hindu dianggap polytheistic.
  4. Dasar Pengelompokan Pura di Bali.
    1. Tattwa Agama Hindu yang berpokok pangkal pada Konsepsi Ketuhanan : "Ekam sat wipra bahudha vadanti", artinya Hanya satu Tuhan Yang Maha Esa orang arif bijaksana menyebutnya dengan banyak nama. Brahman Atman aikhyam artinya: Brahman
      dan Atman hakekatnya manunggal
       (Reg Weda).
    2. Prabawa Hyang Widhi Wasa dan atau Atma Sidha Dewata yang dipuja di Pura tersebut.
      Panyiwi Pura tersebut, jagat dan warga (clan).

  5. Pengelompokan Pura di Bali.
    1. Berdasarkan fungsinya digolongkan menjadi dua kelompok:
      1. Pura Jagat yaitu Pura yang berfungsi sebagai tempat suci untuk memuja Hyang Widhi Wasa dalam segala Prabawa- NYA (manifestasi- NYA).
      2. Pura Kawitan yaitu Pura yang berfungsi sebagai tempat suci untuk memuja Atma Sidha Dewata (Roh Suci Leluhur).
    2. Berdasarkan karakterisasi digolongkan menjadi empat kelompok:
      1. Pura Kahyangan Jagat yaitu Pura tempat pemujaan Hyang Widhi Wasa dalam segala Prabawa- NYA (manifestasi- NYA) seperti Pura Sad Kahyangan dan Pura Jagat lainnya.
      2. Pura Kahyangan Desa (territorial) yaitu Pura yang disungsung oleh Desa Adat.
      3. Pura Swagina (Pura Fungsional) yaitu Pura yang penyiwinya terikat oleh ikatan swaginanya (Kekaryaannya) yang mempunyai profesi sama dalam sistem mata pencaharian hidup seperti Pura Subak, Pura Melanting dan yang sejenisnya.
      4. Pura Kawitan yaitu Pura yang penyiwinya ditentukan oleh ikatan "wit" atau Leluhur berdasarkan garis kelahiran (genealogies), seperti Sanggah/ Merajan, Pretiwi, Ibu, Panti, Dadia, Batur, Dadia, Penataran Dadia, Dalem Dadia, Dadia, Pedharman dan yang sejenisnya.
Catatan
  1. Selain kelompok Pura yang mempunyai fungsi dan karakterisasi seperti tersebut di atas diakui terdapat pula Pura yang berfungsi di samping untuk memuja Hyang Widhi Wasa/ Prabawa- NYA juga berfungsi untuk memuja Atma Sidha Dewata (Roh Suci Leluhur).
  2. Palinggih Penyawangan yang terdapat di kantor- kantor, sekolah- sekolah dan sejenis dengan itu dapat dikelompokkan ke dalam kelompok Pura Jagat/ Umum karena sebagai tempat pemujaan Prabawa tertentu dan Hyang Widhi Wasa.


Struktur Pura

  Pada umumnya struktur atau denah pura di Bali dibagi atas tiga bagian, yaitu: jabapuraatau jaba pisan (halaman luar), jaba tengah (halaman tengah) dan jeroan (halaman dalam). Di samping itu ada juga pura yang terdiri dari dua halaman, yaitu: jaba pisan (halaman luar) dan jeroan (halaman dalam) dan ada juga yang terdiri dari tujuh halaman (tingkatan) seperti pura Agung Besakih. Pembagian halaman pura ini, didasarkan atas konsepsi macrocosmos (bhuwana agung), yakni : pembagian pura atas 3 (tiga) bagian (halaman) itu adalah lambang dari “triloka“, yaitu: bhùrloka (bumi), bhuvaáloka (langit) dan svaáloka(sorga). Pembagian pura atas 2 (dua) halaman (tingkat) melambangkan alam atas (urdhaá) dan alam bawah (adhaá), yaitu àkàúa dan påtivì.
Sedang pembagian pura atas 7 bagian (halaman) atau tingkatan melambangkan “saptaloka” yaitu tujuh lapisan/tingkatan alam atas, yang terdiri dari: bhùrloka, bhuvaáloka, svaáloka, mahàoka, janaloka, tapaloka dan satyaloka. Dan pura yang terdiri dari satu halaman adalah simbolis dari “ekabhuvana” , yaitu penunggalan antara alam bawah dengan alam atas. Pembagian halaman pura yang pada umumnya menjadi tiga bagian itu adalah pembagian horizontal sedang pembagian (loka) pada palinggih-palinggih adalah pembagian yang vertikal. Pembagian horizontal itu melambangkan “prakåti” (unsur materi alam semesta) sedangkan pembagian yang vertikal adalah simbolis “puruûa” (unsur kejiwaan/spiritual alam semesta). Penunggalan konsepsi prakåti dengan puruûa dalam struktur pura adalah merupakan simbolis dari pada “Super natural power“. Hal itulah yang menyebabkan orang orang dapat merasakan adanya getaran spiritual atau super natural of power (Tuhan Yang Maha Esa ) dalam sebuah pura.
Sebuah pura di kelilingi dengan tembok (bahasa Bali = penyengker ) scbagai batas pekarangan yang disakralkan. Pada sudut-sudut itu dibuatlah “padurakûa” (penyangga sudut) yang berfungsi menyangga sudut-sudut pekarangan tempat suci (dikpàlaka ).
Sebagian telah dijelaskan di atas, pada umumnya pura-pura di Bali terbagi atas tiga halaman, yaitu yang pertama disebut jabaan (jaba pisan) atau halaman depan/luar, dan pada umumnya pada halaman ini terdapat bangunan berupa “bale kulkul” (balai tempat kentongan digantung), “bale wantilan” (semacam auditorium pementasan kesenian, “bale pawaregan” (dapur) dan “jineng” (lumbung). Halaman kedua disebut jaba tengah (halaman tengah biasanya berisi bangunan “bale agung” (balai panjang) dan “bale pagongan” (balai tempat gamelan). Halaman yang ketiga disebut jeroan (halaman dalam), halaman ini termasuk halaman yang paling suci berisi bangunan untuk Tuhan Yang Maha Esa dan para dewa manifestasi-Nya. Di antara jeroan dan jaba tengah biasanya dipisahkan oleh candi kurung atau kori agung.
Sebelum sampai ke halaman dalam (jeroan) melalui kori agung, terlebih dahulu harus memasuki candi bentar, yakni pintu masuk pertama dari halaman luar (jabaan atau jaba pisan) ke halaman tengah (jaba tengah). Candi bentar ini adalah simbolis pecahnya gunung Kailaúa tempat bersemadhinya dewa Úiva. Di kiri dan kanan pintu masuk candi bentar ini biasanya terdapat arca Dvàrapala (patung penjaga pintu, dalam bahasa Bali disebut arca pangapit lawang), berbentuk raksasa yang berfungsi sebagai pengawal pura terdepan. Pintu masuk kehalaman dalam (jeroan) di samping disebut kori agung, juga dinamakan gelung agung. Kori Agung ini senantiasa tertutup dan baru dibuka bila ada upacara di pura. Umat penyungsung(pemilik pura) tidak menggunakan kori agung itu sebagai jalan keluar-masuk ke jeroan, tetapi biasanya menggunakan jalan kecil yang biasanya disebut “bebetelan“, terletak di sebelah kiri atau kanan kori agung itu.
Pada bagian depan pintu masuk (kori agung) juga terdapat arca Dvàrapàla yang biasanya bermotif arca dewa-dewa (seperti Pañca Devatà). Di atas atau di ambang pintu masuk kori agung terdapat hiasan kepala raksasa, yang pada pura atau candi di India disebut Kìrttimukha, pada arnbang candi pintu masuk candi Jawa Tengah discbut Kàla, pada ambang candi di Jawa Timur disebut Banaspati dan di Bali discbut Bhoma. Cerita Bhoma atau Bhomàntaka (matinya Sang Bhoma ) dapat dijumpai dalam kakawin Bhomàntaka atau Bhomakawya. Bhoma adalah putra dewa Viûóu dengan ibunya dewi Påtivì yang berusaha mengalahkan sorga. Akhimya ia dibunuh oleh Viûóu sendiri. Kepalanya yang menyeringai ini dipahatkan pada kori agung. Mcnurut cerita Hindu, penempatan kepala raksasa Bhoma atau Kìrttimukha pada kori agung dimaksudkan supaya orang yang bermaksud jahat masuk kedalam pura, dihalangi oleh kekuatan raksasa itu. Orang-orang yang berhati suci masuk kedalam pura akan memperoleh rakhmat-Nya.

KeSimpulan

Berdasarkan uraian tersebut di atas maka dapat ditarik simpulan bahwa pura adalah tempat suci, tempat untuk memuja Tuhan Yang Maha Esa, para devatà dan roh suci leluhur. vaýúakarta) yang diyakini telah mencapai alam kesucian (svarga). Di samping itu pengelompokkan pura juga dibedakan atas pura umum, pura teritorial, pura fungsional, dan pura kawitan (pura untuk memuja pendiri dinasti).
Berdasarkan fungsinya dibedakan menjadi Pura Jagat dan Pura Kawitan, sedangkan berdasarkan karakternya dibedakan menjadi Pura Kahyangan Jagat, Pura Kahyangan Desa, Pura Swagina (pura fungsional) dan Pura Kawitan. Berdasarkan struktur pura dibedakan pura dengan 3 halaman (Jeroan, Jaba Tengah dan Jaba Sisi) yang melambangkan Tribhuwana (Svah, Bhuvah, dan Bhurloka), 2 halaman (Jeroan dan Jabaan) yang melambangkan alam sorga dan bumi dan yang satu halaman saja yang melambangkan alam sorga. Pura dengan 3 halaman pada umumnya untuk pura yang besar (Kahyangan Jagat) sedangn pura dengan 2 atau satu halaman pada umumnya utuk pura Kawitan atau pura keluarga.
Pura dibedakan berdasarkan pengelompokka peruntukannya, yaitu pura yaitu pura sebagai tempat untuk memuja Tuhan Yang Maha Esa atau para devatà manifestasi-Nya dan pura untuk memuja roh suci para leluhur, utamanya roh suci para mahàrûi (àchàrya) dan pendiri dinasti ( Daftar Pustaka



Selasa, 28 Agustus 2012

Makna Penjor


  1. Pengertian.
    Penjor adalah salah satu sarana Upakara dalam merayakan Hari Raya Galungan, dan merupakan simbul Gunung yang memberikan keselamatan dan kesejahteraan, seperti halnya Gunung Agung, di mana terletak Pura Besakih yang merupakan tempat pemujaan terbesar bagi umat Hindu di Indonesia.
  2. Bahan dari Perlengkapan
    1. Bahan penjor adalah sebatang bambu yang ujungnya melengkung, dihiasi dengan daun. kelapa/ daun enau yang muda serta daun- daunan lainnya (Palawa).
    2. Perlengkapan adalah pala bungkah (umbi- umbian) misalnya ketela rambat; pala gantung seperti kelapa, mentimun, pisang dan sebagainya; pala wija (biji- bijian) yaitu- jagung, padi dan sebagainya jajan. 11 uang kepeng/ logam, serta sanggah lengkap dengan sesajennya. Pada ujung penjor digantungkan sampian penjor lengkap dengan porosan (sirih; kapur, pinang) dan bunga.
    3. Pada hari Kuningan sesajennya dilengkapi dengan endongan, tamiang dan kolem.
  3. Tujuan Pemasangan.
    Tujuan pemasangan penjor sebagai swadharma umat Hindu untuk mewujudkan rasa bhakti dan terima kasih ke hadapan Hyang Widhi Wasa dalam prabawa- NYA sebagai Hyang Giripati.
  4. Waktu Pemasangan.
    1. Pemasangan penjor dilaksanakan pada hari Anggara Wage wara Dungulan (sehari sebelum Galungan) setelah menghaturkan ”banten Penampahan Galungan”.
    2. Penjor dapat dicabut pada hari Redite Umanis Langkir (sehari setelah Kuningan). Sementara itu perlengkapan seperti sampian, lamak serta perlengkapan upakara Galungan lainnya dapat dibakar dan abunya sebagian disimpan pada kelapa gading muda yang dikasturi.
    3. Pada hari Budha Kliwon Pahang (35 hari setelah Hari Raya Galungan), abu dalam kelapa gading tersebut di atas dilengkapi dengan sarana kawangen dan 11 uang kepeng/ logam selanjutnya ditanam di pekarangan rumah atau dihanyutkan disertai permohonan pakukuh
      jiwa urip (kadirgayusan).
  5. Tempat Pemasangan.
    Penjor dipasang atau ditancapkan pada “lebuh” di depan sebelah pintu masuk pekarangan rumah. Sedangkan sanggah dan lengkungan ujung penjor menghadap ke tengah jalan.
Segala pala bungkah- pala gantung dan sajen pada sanggah penjor, melambangkan persembahan terhadap Bhatara di Gunung Agung (Bhatara Giri Putri).
Seperti kita ketahui, Gunung adalah sumber dari kesuburan dan akhirnya ke kemakmuran.
  1. Hanya penjor yang menggunakan unsur lengkap (sanggah, padi, pala bungkah dan sebagainya) dapat dipergunakan dalam upacara keagamaan menurut fungsinya.
  2. Penjor untuk dekorasi (bukan Upacara keagamaan) tidak diperbolehkan mempergunakan unsur- unsur tersebut di atas, tetapi hanya menggunakan hiasan- hiasannya saja (bila dengan sampian hendaknya tanpa porosan).